Minggu, 02 November 2014

Petani Keluhkan Serbuan Gula Rafi nasi

PARA petani tebu di Jawa Tengah marah besar dengan mem banjirnya gula rafi nasi di pasar umum, yang memaksa gula lokal milik mereka tertahan di gudang-gudang pabrik gula. Akibatnya gula lokal mengalami penurunan harga hingga tinggal Rp7.700 per kg, atau masih jauh di bawah HPP yang dipatok Rp8.500 per kg.

“Ini sungguh keterlaluan. Rafi nasi mestinya hanya khusus untuk industri minuman dan makanan, dan bukan di pasar umum. Jadi, ini tidak bisa dibiarkan. Sebaiknya pe merintah baru di bawah duet kepemimpinan Jokowi-JK segera menghentikan impor gula rafi nasi. Jika tidak, petani tebu kita dipastikan tinggal menunggu lonceng kematian,” ungkap Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Jawa Tengah Sukadi Wibisono kepada Media Indonesia, kemarin.

Menurut Sukadi, APTRI baru saja melayangkan surat untuk bisa bertemu Menteri Perdagangan Rachmat Gobel, agar bisa melakukan dialog strategis, khususnya mencari solusi terbaik untuk menyelamatkan petani tebu dari petaka kebangkrutan.

Selain tekanan importasi gula rafi nasi yang luar biasa, lanjut Sukadi, petani tebu juga terganggu oleh berbagai permasalahan, termasuk harga pupuk, yang membuat biaya produksi membengkak di atas Rp11 ribu, dan lacurnya hargaharga gula lokal jatuh di bawah Rp8.000 per kg.

“Jadi, pemerintah mesti memberikan proteksi. Sekali lagi jangan dibiarkan seperti ini. Mestinya pemerintah mengimpor gula berdasarkan kuota kebutuhan dalam negeri, guna menjaga pasokan dan permintaan. Kalau berdasar kapasitas pesanan industri makanan dan minuman, jelas petani tebu akan hancur,” tandas Sukadi lagi.

Yang jelas, imbuh Sukadi, untuk di Jawa Tengah saja, saat ini gula lokal 2014 masih menumpuk di gudang-gudang pabrik gula, dan yang keluar baru mencapai 60%. Itu saja, harga sangat jatuh di angka Rp7.700 per kg.

Padahal, yang diinginkan petani tebu harga gula lokal yang mutunya jauh melampaui gula rafinasi bisa mencapai Rp9.500 per kg.

“Mudah-mudahan Presiden Jokowi mendengarkan tangisan petani tebu sehingga nantinya bersedia memberikan proteksi yang konkret sehingga pada 2015 tanaman tebu masih menjadi pilihan petani..

Bukan sebaliknya, tebu ditinggalkan petani sehingga pabrik gula akan kesulitan melakukan proses giling,” ujar Sukadi. (WJ/N-2) Media Indonesia, 1/11/2014, halaman 11