Jumat, 21 Maret 2014

Menuju World Heritage

Revitalisasi merupakan upaya menggapai mimpi pecinta sejarah yang ingin kawasan Kota Tua menjadi kawasan wisata kelas dunia. Kalau yang mengerjakan hanya Pemprov, tidak akan selesai. Itu sebabnya dibuat konsorsium yang dapat menyinergikan seluruh kepentingan.
KEINDAHAN Kota Tua pernah mencapai masa jaya pada zaman kolonial dahulu. Kala itu, atmosfernya begitu magnetis dengan keindahan arsitektur bangunan nan kukuh serta nuansa yang asri.

Batavia lama atau Oud Batavia pun pernah dijuluki pedagang Eropa dan Asia sebagai ‘Mutiara dari Timur’ lantaran keindahannya yang menyerupai kota di Eropa.

Seiring dengan perkembangan zaman, kondisi Kota Tua kian memprihatinkan.
Dalam kawasan seluas 284 hektare itu, tidak jarang ditemukan kerusakan pada bangunan bersejarah yang sepatutnya menjadi cagar budaya.

Bahkan, ada pula gedung yang dijadikan gudang dibiarkan kosong sehingga terlihat menyeramkan. Belum lagi keberadaan PKL, parkir tidak teratur, serta tersebarnya pengemis dan tunawisma mencederai wajah Kota Tua.

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengatakan menerima banyak masukan dari pemerhati. Ia kemudian mencanangkan sebuah program yang menjadi gebrakan tata ruang Kota Tua.

Mantan Wali Kota Surakarta itu memiliki sebuah mimpi yang sama dengan masyarakat yang mencintai sejarah dan budaya, yakni
Kota Tua dinobatkan sebagai world heritage.

“Dari awal memimpin Ibu Kota sudah tebersit di benak saya bahwa kawasan Kota Tua harus menjadi kawasan wisata kelas dunia. Setelah puluhan kali mengitari kawasan ini pun, keyakinan saya semakin teguh bahwa revitalisasi Kota Tua jangan hanya dibicarakan, tetapi harus dilaksanakan secepat mungkin,” ujar Jokowi saat meresmikan Fiesta Fatahillah, sebuah gelaran yang menandai dimulainya revita lisasi Kota Tua, Kamis (13/3).
Potensi luar biasa yang dimiliki Kota Tua sudah sepatutnya mendapat perhatian khusus. Selain itu, diperlukan adanya sinergi seluruh pihak.

Apalagi mayoritas bangunan cagar budaya tersebut bukan milik Pemprov DKI.

Dari pemetaan kepemilikan, Pemprov DKI hanya memiliki tak lebih dari 5% dari total keseluruhan bangunan cagar budaya. Sebanyak 56% aset bangunan dimiliki swasta. Sisanya dimiliki BUMN atau korporasi.
“Kalau yang mengerjakan hanya Pemprov, jelas tidak akan selesai. Itu sebabnya dibuatlah suatu konsorsium yang dapat menyinergikan dan menjembatani seluruh kepentingan,“ seru Jokowi.
Restorasi Megaproyek perombakan tata ruang tidak hanya berfokus pada restorasi, renovasi, serta penataan insfrastruktur saja. Akan tetapi, nuansa kebudayaan dan seni dihidupkan lagi sehingga dapat menjadi oase di tengah keriuhan modernisasi.

“Masterplan perlu dibuat.
Hal tersebut menjadi acuan untuk membedah sektorsektor vital mana yang harus dihidupkan terlebih dahulu.
Parameternya bisa dilihat dari destinasi wisata, potensi ekonomi, kondisi bangunan bersejarah, serta kehidupan budaya. Kami pun sepakat untuk memulai revitalisasi dari titik Taman Fatahillah,“ kata Ketua Konsorsium Revitalisasi Kota Tua SD Darmono.

Kepala Unit Pengelolaan Kawasan Kota Tua Gathut Dwi Hastoro mengatakan revitalisasi sudah digaungkan sejak lama oleh pemimpinpemimpin Ibu Kota terdahulu. Hanya, revitalisasi Kota Tua kerap kali berhenti pada tatanan wacana saja tanpa ada implementasi lebih lanjut. (J-1/Media Indonesia,15/03/2014)