Selasa, 05 November 2013

Masalah Lahan Masih Mengganjal Tol Kebon Jeruk - Ulujami

Rental Mobil Jakarta - Sejumlah kalangan menyayangkan sikap warga Petukangan Selatan, Jakarta Selatan yang masih bersikeras menolak melepaskan lahan mereka untuk pembangunan Jalan Tol Jakarta Outer Ring Road West 2 (JORR W2) dari Kebon Jeruk - Ulujami.
Dengan penolakan tersebut JORR W2 yang dirancang untuk meringankan beban kemacetan di Jakarta belum sepenuhnya tuntas.

Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta Azas Tigor Nainggolan pun mendesak persoalan itu segera diselesaikan. "Pemprov DKI Jakarta harus makin intens menjembatani penyelesaian masalah ini. Jalan tol ini sudah dinantikan masyarakat karena diharapkan mampu mengurangi kemacetan di Jakarta Selatan dan sekitarnya," ujar Tigor.

Anggota DPRD DKI Jakarta ALiman Aat berpandangan sama. Menurutnya, ada upaya dari oknum-oknum tertentu untuk menghambat penyelesaian JORR W2. "Untuk memberikan fasilitas publik memang harus ada yang dikorbankan. Namun, ini kan juga diganti rugi bahkan sudah ada tim appraisal lagi. Kita harapkan dapat segera diselesaikan."

Dapatkan informasi rental mobil Jakarta murah

Pengamat perkotaan, Sugiyanto mengecam warga yang lebih mengedepankan kepentingan pribadi dengan mematok ganti rugi tanah terlalu tinggi. "Masak mintanya sampai Rp 18 juta per meter persegi. Padahal, negara sudah menawarkan hingga Rp 6 juta. Lebih baik dititipkan ke pengadilan saja," ujarnya.

JORR W2 sepanjang 7 km tersebut direncanakan mulai beroperasi akhir 2013. Saat ini prosesnya tinggal tahap merapikan seperti pemasangan rambu, marka jalan dan landscaping.

Dengan beroperasinya JORR W2, jarak Kebun Jeruk ke Ciledug bisa ditempuh 25 menit dengan tarif Rp 7.500. Proyek tersebut dimulai sejak 21 Oktober 2011 dan terbagi empat paket. Paket pertama Kebun Jeruk - Meruya, paket kedua Meruya - Joglo, paket ketiga Jogla - Ciledug dan paket keempat Ciledug - Ulujami.
Permasalah pembebasan lahan berada di paket keempat. Setidaknya 130 warga Petukangan Selatan masih bertahan dengan luas lahan yang masih jadi persoalan 2,28 hektare.



 Sumber Media Cetak : Media Indonesia, 4 November 2013.